Selasa, 11 September 2012

PATUNG CAMUNDI

  Tahun 1927 ada seorang petani didesa Ardimulyo, sebelah utara candi Singosari, menemukan dan menyimpan sebuah arca agak besar. Namun kemudian dia sering bermimpi menyeramkan dan mengalami nasib jelek. Khawatir itu semua karena pengaruh patung yang baru ditemukannya, maka dia menghancurkan patung itu berkeping-keping. Untunglah museum Kesenian Boston, setelah berhasil menyelamatkannya dari seorang kolektor Belanda, dengan kesabaran luar biasa, berhasil menyatukan kembali sebagian besar bagian-bagian yang rusak dan hilang kecuali sedikit bagian belakang, dasaran, sedkit bagian depan yang sudah bercampur dengan bahan material baru.
            Patung tersebut pernah tergeletak di halaman candi Singosari dan sekarang disimpan di museum Trowulan. Nama patung itu adalah Camundi. Memiliki tangan 8 buah, diapit beberapa tokoh seperti Ganseha dan Bhairawa.
           Dibelakang patung Camundi tertera sebuah prasasti berangka tahun 1214 C atau 1292 M dan berbunyi : “tatkala kaprastisthan paduka bhatari maka tewek huwus sri maharaja digwijaya ring sakalaloka manuyuyi sakaladwipantara”. Disebutkan bahwa Batari Camundi ditasbihkan pada waktu Sri Maharaja Kertanegara menang diseluruh wilayah dan menundukkan semua pulau-pulau lain. (L.C. Damais)
           Dalam Negarakertagama pupuh 42 dijelaskan bagaimana raja Kertanegara mampu menjadi raja besar dengan menaklukkan daerah-daerah seperti Bali, Pahang – Malaysia, Sumatera, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Madura. Itulah bibit-bibit wawasan cakrawala mandala nusantara.
            Walaupun tidak terdapat bukti secara langsung atas daerah-daerah tersebut dan mengkin saja hanya merupakan wilayah simbolis saja, namun kenyataannya Kertanegara benar-benar menguasai Jawa dan Sumatera. Terbukti 6 tahun sebelumnya. tahun 1286, beliau mengirimkan tentaranya ke Sumatera dan berhasil menegakkan patung Amoghapasa disana sebagai bentuk kedaulatan Singosari atas wilayah Sumatera. Raja di Sumatera bernama Mauliawarman tetap diperkenakan memakai gelar maharaja, namun Kertanegara selanjutnya bergelar maharajadiraja. Readmore