Rabu, 12 September 2012

Candi Jago


CANDI JAGO Salah satu candi dengan relief yang begitu kompleks dan detail adalah candi Jago. Relief-relief tersebut dipahatkan hampir merata keseluruh sisa bangunan candi yang masih dapat kita lihat sekarang ini. Disini dipahatkan begitu banyak cerita-cerita moral baik dari unsur Jawa asli, Budhisme, dan Hinduisme. Suatu bentuk perpaduan dinamis yang jarang ditemui di candi-candi lain.             Candi Jago, menurut Negarakretagama disebut Jajaghu, merupakan tempat pendharmaan raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni yang dikatakan meninggal tahun 1190 C atau sekitar 1268 M. Sesungguhnya raja Wisnuwardhana dicandikan di 2 tempat yakni di Waleri (tidak ditemukan sampai sekarang) sebagai Siwa dan di Jago sebagai Budha. Bathara Wisnu mulih ing curalaya pjah dinarma ta sire waleri swasimbha len sugtawimbha mungwin jajaghu (Nagarakretagama 41: 4)

            Dari ulasan pada Negarakretagama tersebut dapat dipahami bahwa Wisnuwardhana adalah penganut agama Siwa-Budha yaitu suatu keagamaan yang timbul sebagai akibat percampuran agama Siwa (Hindu) dan Budha. Saat itu percampuran agama Siwa-Budha berkembang cukup pesat di Singosari. Proses penyatuan 2 agama tersebut berkembang karena pemahaman mendalam serta kristalisasi perkembangan agama di Singosari dimana raja Wisnuwardhana menyadari bahwa 2 agama tersebut memiliki tujuan mulia yang sama. Dilain pihak sang raja berusaha memujudkan suasana tata tentrem kerta raharja tanpa adanya persaingan yang signifikan baik antara 2 agama tersebut serta diantara para penganutnya. 
              Candi Jago juga dimaksudkan sebagai penolak bala tuah keris Mpu Gandring yang dikatakan akan memakan tujuh keturunan Ken Arok. Wisnuwardahana juga mengangkat Narasingamurti yang masih saudara namun beda bapak sebagai pendamping utama dalam menjalankan pemerintahan sehingga periode pemerintahannya disebut dengan 2 naga kepala tunggal. Tujuannya adalah untuk mengakhiri jurang perpecahan antara para keturunan Ken Arok dan Kendedes.
            Banyak bagian bangunan candi Jago yang rusak dan hilang. Sekarang yang terlihat masih utuh hanya bagian kaki candi yang terdiri atas 3 tingkatan dan sebagian kecil badan candi bagian depan yang ditunjukkan oleh adanya pintu. Ada dugaan kuat bahwa atap candi dulunya terbuat dari kayu dan ijuk yang tersusun tinggi seperti atap pura di Bali saat ini. Hal ini ditunjukkan pada potret candi yang dipahatkan pada relief Parthayadnya, teras ke-2, sebelah barat bagian tengah.
            Didepan candi terdapat sebuah batu yoni besar berasal dari ruang tengah candi. Di Belanda disimpan sebuah patung Amogaphasa yang masih utuh dan diduga kuat berasal dari atas yoni ini. Arca yang merupakan salah satu bentuk perwujudan Avalokiteswara ini digambarkan bertangan 8, dikelilingi dewa-dewi, Dhyani Budha dan Tara, sikap tangan wara mudra (sikap memberi) dan abhaya mudra (menolak bala) ; sedang tangan-tangan yang lain memegang aksamala (tasbih), pasa (jerat), pustaka (kitab), padma (teratai), dan kamandalu (kendi). Amoghapasa biasanya dikelilingi 4 pengikutnya ; Sudhanakumara, Syamatara, Hayagriwa, dan Bherkuti dan sekarang masih tersimpan di museum Nasional – Jakarta


Di halaman candi tergeletak sebuah patung tanpa kepala. Patung juga merupakan perwujudan Amoghapasa. Hal ini diketahui dari tulisan nagari yang dipahatkan sebelah atasnya serta atribut dan ciri khasnya. Terdapat juga sisa-sisa 3 kepala kala yang dulunya terletak diatas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Hal menarik adalah kaki candi berbentuk bangunan berundak dan tersusun atas 3 tingkatan dan semakin keatas makin kecil serta agak menjorok kedalam. Pola ini memberikan suatu bidang cukup luas dibagian depan sehingga tepat sebagai tempat bersimpuh atau untuk melakukan ritual para pemujanya. Pada masing-masing tingkatan dihubungkan oleh 2 tangga dan masing-masing diapit oleh sepasang sandaran tangan besar dengan hiasan depan bermotif relief segitiga yang khas Jawa Timuran disebut tumpal. 

Bentuk bangunan berundak ini juga merupakan elemen-elemen pra-sejarah Indonesia seperti bangunan dalam bentuk pemujaan yang diletakkan dilereng-lereng gunung. Sejak periode Singosari, terlihat adanya keinginan kuat untuk memunculkan ide-ide asli Jawa. Hal ini semakin dikuatkan dengan kemunculan tokoh punakawan pada relief Parthayadnya. Punakawan adalah batur pelawak yang selalu mendampingi tokoh utama dan hanya ada dalam dunia seni Jawa. Sampai sekarang tokoh ini dipertahankan dalam tradisi kesenian wayang baik wayang kulit maupun wayang orang.

          Pada kaki candi inilah terpahatkan relief-relief yang memiliki nuansa agama berbeda. Pada tingkatan terbawah dipahatkan beberapa cerita Tantri (Jawa) seperti kura-kura dan anjing, lembu dan buaya, dan Anglingdarma, Kunjarakarna yang bernuansa agama Budha. Pada tingkat kedua dilukiskan cerita Parthayadnya, bagian dari Mahabarata, yang bernuansa agama Hindu; Begitu juga tingkat ketiga dengan cerita Arjunawiwaha.

 
Motif cerita Anglingdarma dan Kunjarakarna mengandung kesimpulan bahwa Wisnuwardhana adalah sang penyelamat. Sementara Parthayadnya dan Arjunawiwaha yang bertitik pangkal pada tokoh Arjuna dari bagian kitab Mahabharata, sebagai inkarnasi Wisnu, menggambarkan bahwa Arjuna adalah tokoh kunci kemenangan dari perang saudara antara Pandawa dan Kurawa hingga akhirnya yang ada hanyalah kebahagian dan perdamaian. Sangat sesuai sekali dengan kondisi politik yang berkembang di Singosari saat itu akibat pertikaian politik saudara antara keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung serta Kendedes dan Ken Umang, sekaligus sebagai potret diri dari sang raja sendiri yang juga memakai nama Wisnu.

            Perpaduan atau sinkretisme yang dianut oleh raja Wisnuwardhana adalah bukti sejarah yang sangat berharga dan diwujudkan pada candi Jago beserta relief-reliefnya. Candi Jago juga merupakan simbol toleransi keagamaan yang mengagumkan. Walaupun Wisnuwardhana menganut agama Hindu, sesuai namanya memakai Wisnu, tetapi dia sangat menghargai agama Budha. Masalah perbedaan agama ini sangat diperhatikan sebab dia jika tidak ditangani dengan serius akan menimbulkan wacana yang berbahaya.

            Begitu peliknya dan sensitifnya masalah perbedaan agama ini, sampai-sampai harus dimuat dalam sebuah kakawin pada jaman Majapahit yang lebih kompleks situasi dan pemerintahan sesudahnya. Sebuah bait pendek dalam kitab Sutasoma (149 : 5) karangan Mpu Panuluh, yang berbunyi bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa (berbeda tetap satu jua, tak ada ajaran yang mendua), menjadi kepatutan ketika diputuskan menjadi inspirasi negara kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, adapt, dan kepulauan.Baca Selanjutnya